Pangeran Diponegoro, “Orang Besar” yang Rendah Hati

 

BeritaMuslim.com – Sebuah buku yang yang sempat diyakini sebagai buku babon Mahasiswa Sejarah di Indonesia menuliskan bahwa kehidupan masa kecil pria tersebut tidaklah seperti anak-anak seusianya. Dia lahir di tengah-tengah konflik. Tetapi, dari situlah ia menjadi kuat.

11 November 1785 dia dilahirkan dari rahim seorang perempuan bernama R. A. Mangkarawati, dia merupakan selir Sultan Hamengku Buwono III. Dia lahir dalam situasi istana yang kalut karena ulah Bangsa Belanda yang banyak mencampuri urusan istana. Dalam masa kanak-kanaknya, dia diasuh oleh nenek buyutnya yang merupakan permaisuri dari Sultan Hamengku Buwono I yang bernama Kanjeng Ratu Ageng.

Dialah anak yang cerdas, santun, rajin, pemberani dan religius.

Sifat-sifat terpujinya itu dia dapatkan dari asuhan sang nenek buyut yang membawanya pergi meninggalkan istana setelah kondisinya semakin kacau balau. Apalagi saat Sultan Hamengku Buwono I wafat dan pemerintahan beralih ke tangan Sultan Hamengku Buwono II, dia membuat kebijakan untuk memecat dan menggeser pegawai istana dan bupati-bupati yang dahulu dipilih oleh Sultan Hamengku Buwono I.

Kanjeng Ratu Ageng memilih untuk tinggal di desa kecil yang merupakan daerah persawahan dengan sedikit penduduk di sebelah barat Yogyakarta. Desa Tegalrejo. Cicitnya saat itu berusia 6 tahun. Beberapa tahun kemudian, anak yang lahir dalam kekalutan istana, yang diasuh oleh nenek buyutnya di desa terpencil itu muncul sebagai seorang pemimpin perang terbesar di Jawa Tengah. Sososknya pernah tercetak dalam uang kertas seribu rupiah cetakan 1975-1979 sebagai salah satu Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Dia Diponegoro, atau yang lebih akrab dengan sebutan Pangeran Diponegoro, karena dalam silsilah dia memang benar-benar pangeran Istana Yogyakarta.

Diponegoro mengingatkan kita pada sederetan peristiwa bersejarah di Jawa Tengah. Perang sepanjang tahun 1825 hingga 1830 di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menelan banyak korban itu pun akrab kita sebut sebagai Perang Diponegoro. Mengutip tulisan J.I. Van Sevenhoven, Pangeran Diponegoro pernah mengatakan, “untuk meniru apa yang dilakukan oleh para ulama, kami kerap kali pergi ke Pasar Gede, Imogiri, Guwa Langse, dan Selarong. Apabila ke Pasar Gede dan Imogiri, kami biasa berjalan kaki. Tetapi apabila ke Guwa Langse dan Selarong, kami naik kuda dengan banyak pengiring.”

“Di kedua tempat terakhir ini kami sering menolong petani menuai atau menanam padi. Memang semestinya para pembesar menyenangkan hati rakyat kecil,” lanjutnya. Seorang pemimpin memang seyogianya harus menyenangkan hati anak buahnya, bukan malah mempersulit mereka. Pun dengan Diponegoro, dia adalah orang besar, dia seorang Pangeran, dia disegani dengan segala kelebihannya, tetapi dia tak segan-segan menolong petani kecil menggarap sawah. Dialah pemimpin yang hebat.