Aqiqah Hanya Untuk Hari Ke Tujuh Pasca Kelahiran Sang Bayi

BeritaMuslim.com – Saat memiliki seorang bayi, baik bayi laki laki maupun bayi perempuan, maka seorang muslim hendaknya melakukan aqiqah atas kelahiran bayinya tersebut. Kendati hanya sebagai suatu amalan sunnah, namun aqiqah sebaiknya tetap dilaksanakan jika memang orang tua atas bayi yang baru saja lahir tersebut mampu untuk melaksanakannya.

Pelaksanaan aqiqah sendiri pun sudah memiliki aturan sebagaimana yang di sabdakan oleh Rasulullas SAW yang artinya adalah sebagai berikut, “Setiap anak yang lahir tergadai aqiqahnya yang disembelih pada hari ke tujuh, dan pada hari itu ia diberi nama dan digunduli rambutnya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Baihaqi, dan Hakim).

Tidak Ada Aqiqah Saat Usia Dewasa

Dari hadits tersebut di atas jelas bahwa aturan untuk melakukan aqiqah adalah dilaksanakan pada hari ke tujuh pasca kelahiran sang jabang bayi, sehingga jika disesuaikan dengan penanggalan bulan hijriah maka misalnya seorang bayi lahir pada hari Rabu pukul 19.00 WIB, maka aqiqahnya dilakukan pada hari Rabu seminggu selanjutnya. Namun, jika seorang bayi lahir pada hari Rabu pada pukul 16.00 WIB maka aqiqahnya jatuh pada hari selasa seminggu kemudian. Hal tersebut terjadi karena perpindahan hari dalam kalender hijriyah adalah sejak terbenamnya matahari.

Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa tidak ada aqiqah yang dilaksanakan pada saat seseorang telah beranjak dewasa, pada hari setelah hari ke tujuh (misalnya hari ke delapan) saja sudah bukan merupakan aqiqah. Sekalipun ada hadits yang menyebutkan bahwa aqiqah dapat dilakukan pada hari ke tujuh, ke empat belas, dan ke dua puluh satu, namun hadits tersebut dianggap lemah sebab di dalamnya terdapat rawi yang bernama Ismail Bin Muslim, sehingga menjadi hadits Dhaif.

Teknis Pelaksanaan Aqiqah Berdasarkan Hadits Nabi

Kemudian untuk teknis pelaksanaan aqiqah, Rasulullah menjelaskan dalam sabdanya yang berarti, “Barang siapa di antara kamu ingin beribadat tentang anaknya hendaklah dilakukannya, untuk anak laki laki dua ekor kambing yang sama umurnya, dan untuk anak perempuan seekor kambing.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i).

Sehingga sudah jelas teknis pelaksanaan aqiqah berdasarkan hadits di atas, namun jika memang seorang yang memiliki bayi laki laki, namun tidak mampu menyembelih dua ekor kambing, maka tidak apa jika hanya menyembelih satu ekor saja. Begitu pun sebaliknya, jika seseorang memiliki bayi perempuan, namun ia memiliki rezeki yang lebih dan ingin menyembelih dua ekor kambing atau lebih, maka hal tersebut juga sah sah saja.