Kericuhan di Panggung Muktamar NU, Putri Abdurrahman Wahid Berharap Para Kiai Turun Tangan

BeritaMuslim.com – Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke 33 yang digelar di Jombang sejak hari Sabtu (1/8/2015) lalu sepertinya menemui berbagai macam persoalan. Salah satunya adalah persoalan dalam membahas agenda persidangan tata tertib yang hingga Senin (3/9/2015) dinihari tadi belum juga rampung. Pasalnya ada beberapa bahasan yang “alot” sehingga membuat peserta saling adu argumen, bahkan hingga terjadi kericuhan.

Yenny Wahid: “Saya Berharap Para Ulama Senior Turun Tangan”

Menanggapi hal tersebut, Yenny Wahid, Putri Presiden ke-3 Republik Indonesia Abdurrahman Wahid memberikan saran dengan cara mengusulkan supaya para kiai turun tangan untuk menenangkan peserta muktamar supaya kericuhan tidak terjadi berlarut larut. Menurut Yenny, hal tersebut sangat perlu dilakukan mengingat para kiai sepuh memiliki peranan penting bagi kalangan ulama muda, sehingga keberadaan mereka diyakini akan mampu meredam emosi para ulama yang masih tergolong muda.

“Saya khawatir akan terjadi perpecahan di tubuh NU hanya karena suksesi muktamar,” ujar Yenny sebagaimana dikutip dari kompas.com pada Senin pagi. “Maka dari itu saya berharap para ulama senior turun tangan dalam rangka penyelamatan,” imbuhnya.

Selain mengusulkan untuk melibatkan peran ulama senior dalam upaya mengkondusifkan peserta muktamar, Yenny juga mengingatkan agar para peserta kembali kepada semangat “Qanun Asasi”. Hal tersebut merupakan sebuah pedoman yang ditulis oleh sang Pendiri NU KH Hasyim Asyari di mana di dalamnya memuat seruan dalam mengedepankan persatuan dan mencegah saling benci, saling menjerumuskan, saling dengki, dan saling bermusuhan.

Alotnya Pembahasan Ahwa dan Isu Politik Uang

Terjadinya kericuhan dalam muktamar NU tersebut ditengarai dengan alotnya jalan persidangan pada saat membahas bab VII pasal 19 tentang pemilihan Rois A’am dan ketua umum, khususnya ayat 1 yang membahas mengenai penggunaan sistem musyawarah mufakat atau sistem Ahlul Halli Wal’aqdi (Ahwa) pada pemilihan Rois A’am. Sidang tersebut diketuai oleh Slamet Effendi Yusuf.

Bahkan kericuhan yang terjadi tersebut membuat beberapa peserta muktamar dipaksa keluar dari jalannya sidang. Salah satunya adalah peserta yang berasal dari Riau yang mencoba mengungkapkan adanya fakta politik uang untuk meloloskan model musyawarah mufakat tersebut. Sebagaimana yang dikutip dari kompas.com, ia mengatakan bahwa ada oknum yang membawa segepok uang untuk peserta muktamar agar mendukung model Ahwa. Sontak hal tersebut membuat sejumlah peserta yang lain mengajukan protes karena dinilai merendahkan derajat kiai.