Meluruskan Kebingungan Menyoal Jumlah Presiden Republik Indonesia

BeritaMuslim.com – Beberapa hari terakhir ini pengguna situs jejaring sosial semacam facebook dan twitter banyak yang membagikan tautan terhadap sebuah artikel yang membahas mengenai dua nama yang disinyalir sebagai nama nama seorang yang pernah memimpin Indonesia, namun kedua nama tersebut seolah olah hilang dari jejak sejarah bangsa Indonesia.

Selama ini, memang sebagian besar masyarakat Indonesia menganggap bahwa jumlah presiden yang telah dimiliki Indonesia adalah sebanyak 7 orang, mulai dari Soekarno, Soeharto, B.J.Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan yang masih menjabat hingga saat ini Joko Widodo. Namun, beberapa fakta dalam sejarah mengatakan bahwa ada dua nama lagi yang pernah memimpin negeri ini, sehingga hal tersebut menjadi sedikit ramai diperbincangkan oleh netizen akhir akhir ini.

Dua Nama yang Seolah Hilang

Sebut saja nama Syafruddin Prawiranegara dan Assaat. Menurut banyak sumber, Syafruddin Prawiranegara merupakan presiden yang memimpin pemerintahan selama Indonesia berada dalam masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) sejak 22 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949.

Menjabatnya Syafruddin menjadi seorang presiden pada kala itu bukan karena tanpa sebab, namun sebaliknya. Pada saat itu Belanda telah berhasil menangkap Presiden Soekarno beserta Moh. Hatta. Oleh karena itu, untuk mempertahankan Indonesia supaya terhindar dari kekosongan pemerintahan maka ditunjuklah Syafrudin supaya membentuk pemerintahan darurat di Sumatera. Sejak saat itulah, Syafruddin yang semula merupakan menteri kemakmuran mulai memiliki jabatan baru sebagai presiden pemerintahan darurat.

Kemudian nama kedua yang juga seolah hilang dari sejarah bangsa adalah Assaat. Ia merupakan orang yang memegang jabatan sebagai orang nomor satu ketika pusat pemerintahan RI berada di Yogyakarta sebagai bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS). Pada saat itu pemerintah Belanda menyerahkan kedaulatan Indonesia kepada RIS berdasar perjanjian Konferensi Meja Bundar 27 Desember 1949, sehingga menyebabkan Soekarno dan Moh. Hatta yang merupakan presiden dan wakil presiden menjabat sebagai presiden dan wakil presiden RIS. Untuk mengisi kekosongan kepemimpinan pada pemerintahan Indonesia di bawah RIS itulah maka ditunjuklah Assaat untuk menjadi presiden Indonesia hingga 15 Agustus 1950 saat RI dan RIS kembali dileburkan menjadi Negara Kesatuan Republik Inonesia (NKRI).

Presiden Sementara Untuk Pemerintahan Sementara

Namun sebagaimana fakta yang ada, sebenarnya dua nama tersebut, yakni Syafruddin dan Assaat memang hanya merupakan pemimpin Indonesia secara sementara, bahkan Syafruddin sebenarnya bukan memimpin Indonesia, namun ‘hanya’ Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, begitu juga dengan Assaat, ia juga memimpin Indonesia saat menjadi bagian dari Republik Serikat.

Keduanya bukan presiden Indonesia secara menyeluruh. Sehingga wajar jika memang keduanya tidak dianggap sebagai seorang presiden di dalam sumber sumber sejarah. Namun demikian, keduanya merupakan orang yang memiliki peran penting dalam pemerintahan Indonesia sehingga bisa menjadi seperti sekarang ini.