Saingan Mundur, Said Aqil Siradj Kembali Jadi Ketua PBNU

KH Said Aqil Siradj

BeritaMuslim.com – Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke 33 yang dihelat di Jombang sejak Sabtu (1/8) lalu kembali memberikan pemberitaan segar bagi masyarakat luas. Setelah sebelumnya terjadi kisruh antar anggota yang sampai menyebabkan beberapa peserta muktamar dikeluarkan dari ruang sidang, pada kamis (6/8) dini hari terpilihlah ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang baru.

Ketua PBNU yang akan menjabat pada periode 2015-2020 tersebut bukanlah nama baru. Ia adalah Said Aqil Siradj, yang memang kembali terpilih sebagai ketua PBNU untuk periode 5 tahun ke depan. Dalam pemilihan yang digelar sejak rabu malam tersebut Said sebenarnya bersaing ketat dengan As’ad Said Ali.

Pada putaran pertama, keduanya sama sama berhasil mendapatkan suara di atas 99. Saat itu Said Aqil Siradj medapatkan suara sebesar 287 suara, sedangkan Asad Said Ali berhasil mengantongi 107 suara. Walaupun jarak jumlah suara yang diperoleh antar keduanya bisa dibilang cukup banyak, namun sesuai dengan ketentuan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) mereka berdua berhak maju ke putarak sebrikutnya.

Berdasarkan aturan AD/ART NU, kandidat yang meraih suara di atas 99 bisa mengikuti proses seleksi pada putaran yang selanjutnya. Akan tetapi, setelah proses penjaringan pada tahap pertama tersebut Asad Said Ali menyatakan untuk tidak meneruskan proses seleksi, atau dengan kata lain ia mengundurkan diri.

Dengan demikian, Said Aqil Sijadj lah yang berhak untuk kembali menjabat sebagai ketua PBNU secara mutlak. Ia menang karena satu satunya pesaing telah menyatakan untuk mengundurkan diri dari serangkaian tahapan seleksi. Sontak, mundurnya Asad Said Ali dari proses seleksi tersebut menimbulkan sedikit goncangan, namun akhirnya peserta muktamar tetap dapat menerima keputusan yang ada dengan lapang dada.

Asad Said Ali, sebagaimana dikutip dari islampos.com mengatakan, “Saya kalah pintar, kalah pengalaman dari KH Said, terima kasih. Sekali lagi kehadiran saya di sini tetap sebagai warga NU tetap membantu beliau membesarkan Nahdlatul Ulama.” Meskipun dapat diterima, namun pernyataan tersebut tetap mengagetkan banyak pihak, pasalnya calon yang lain yakni pengausuh pesantren Tebuireng Jombang KH Shalahudin Wahin telah menolak saat hendak dicalonkan.